The Ultimate of Crucification

Aku kecewa melihat semua itu.

Aku duduk terdiam dan melihat kejadian itu seperti movie yang terus bermain di kepalaku.

Sambil menangis ku berkata kepada Bapa ku,

Bapa mengapa semua ini terjadi ? Mengapa harus ada batu kerikil di perjalananku?

Namun yang ku dengar hanya isakan tangisku.

Sekali lagi, aku bertanya kepada Nya,

Mengapa harus ada kerikil di perjalanan ini ?

Tidak berhenti tangis ku, air mataku bergelinang.

Kemudian, aku tersadar akan salib.

Lihat salib itu. – kata Nya

Salib yang menyalibkan orang tak berdosa,

Manusia yang hanya di pakai sebagai perpanjangan tangan untuk keselamatan orang banyak.

Di caci maki sebelum di paku; Di hina bahkan sebelum kematian Nya,

Tidak hanya itu, dicambuk dan terjatuh ketika perjalanan Nya.

Mengalami ketidak-adilan ketika manusia yang berusaha Dia selamatkan memilih penjahat Barabas untuk di selamatkan.

Bagaimana kita bisa menerima itu semua?

Tapi tidak sedikit pun kata umpatan keluar dari mulutNya,

Menderita, tersakiti dan di kecewakan.

**Silence and more tears**

Itulah arti salib.

Kecewa dan tersakiti tapi harus tetap bangkit memanggul salib karna Dia tahu Dia harus pulang ke rumah Bapa Nya di surga.

Itulah Cinta yang sesungguhnya

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *